Friday, April 01, 2011

Benci. Benci sekali

Kenapa kau begitu mudah tersenyum?
Kenapa begitu mudah kau bagi tawamu?
Lagi, kau buat mereka ikut tersenyum
Padahal aku tahu
Didalam sana cuma pedih, kan?
Aku benci, benci sekali.
Pada tawamu.
Karena semakin kau tertawa
Semakin sulit aku membencimu
Aku benci harus membencimu
Tapi aku harus
Dan aku benci itu
Dan selama aku bicara ini padamu
Di kepalaku meledak lagi seribu pertanyaan
Tentang senyum, tawamu, dan kebencianku
Haruskah kau jawab?
Tidak
Karena aku terlalu benci untuk bertanya padamu

No comments:

Post a Comment