See, gue, ehm, bangga sama rambut gue. Bukan, bukan karena banyak yang bilang kok bisa lurus banget tanpa dicatok. Bukan juga karena banyak yang bilang halus, dst, dst. Bukan.
Waktu itu pernah ada yang nanya, kenapa rambut gue panjang terus, gak pernah pendek? Emang gak gerah ya? Kan boros sampo? ngeringinnya bukannya lama ya xin?
Dst, dst.
The thing is, punya rambut panjang itu kayak udah, mmm, habit. Kayak kalo lo biasa pake jam tangan, lo bakal ngerasa kehilangan sesuatu kalo gak pake jam tangan. Kayak ada "hole" gitu (duh, xin.). Tapiiiii, itu bukan satu-satunya alasan juga.
Gue sering nguncir rambut, apalagi kalo lagi belajar. Kalo rambutnya dikuncir, lapangan pandangnya jadi luas banget, gaada batasan, gak ada yang harus disibak kalo mau liat yang ada didepan. Tapi sering juga rambut gue digerai, disekeliling telinga, kadang nutup setengah muka. Gue bisa liat orang lain, tapi orang lain akan sulit ngeliat seluruh wajah gue. Akan ada batas yang harus disibak juga kalo gue mau liat kedepan atau kesamping. Kenapa gak dikuncir terus aja? Atau potong pendek?
Tau tirai kan? Yep. Lebih mudah menulikan dan menumpulkan indra ketika "tirai rambut" gue nutup sekeliling wajah dan pandangan gue. Kadang lo pengen gak ngeliat dan merasakan sekitar lo, tapi sulit karena lo bisa melihat dan merasa. Bukan karena gue benci crowd, no, I love crowd. Crowded = alive. Tapi menulikan dan menumpulkan semua indra untuk sejenak, somehow, melegakan. Dan "tirai rambut"nya juga menimbulkan, apa ya, sensasi kayak... terlindungi gitu. Bahwa sejenak lo gak perlu peduli apa yang terjadi diluar rambut lo. Ketika gue gak mau ada orang yang ngeliat kondisi gue yang berubah, atau gimana gue hari itu, gue akan berlindung di sini, juga.
"It's just you, and your cave. Your very private and safe mind-made cave." she whispered.
No comments:
Post a Comment