Anatomy. Make yourself comfortable enough, and listen. Oh, I mean, read.
Jadi gini. Anatomi itu salah satu bidang ilmu dasar yang harus dikuasai setiap orang yang mau jadi dokter, alias mahasiswa FK. Bobotnya? Berattt. Rasanya udah belajar jungkir balik guling-guling salto sambil bikin jus melon, ujung-ujungnya C aja udah sujud syukur ribuan kali. Nah, ada sisi lain dari anatomi yang baru gue sadari beberapa minggu belakangan ini.
Beberapa minggu yang lalu, kami baru selesai ujian identifikasi situs Osteo-Myologia (Muskuloskeletal >> Otot dan Tulang). Pas praktikum, belajar mantengin Sobotta sama Yokochi, mantengin diktat, semua buat mempelajari setiap jengkal bagian tulang dan otot yang melekat di seluruh tubuh manusia. Kita belajar pake cadaver.
Mortui vivos docent... Yang hidup belajar dari yang mati. Cadaver itu.. dosen tak bernyawa. Orang-orang amat berjasa yang merelakan tubuhnya jadi bahan pembelajaran. Pas belajar myo, kondisi kulit (cutis) cadaver udah dibuka seluruhnya, jadi kita bisa lihat seluruh bagian otot dibawah kulitnya.
Disinilah gue merasa sisi humanity gue terusik. Dulu, kalo liat kecelakaan, badan korbannya hancur, dan misalnya ada potongan kaki yang kelempar ke deket gue, gue akan ngerasa takut, sedikit jijik, dan mungkin menangis sambil berdoa karena, hell man, orang itu manusia yang tadinya bernafas, dan sekarang terburai, gaada lagi didunia, dan kakinya kelempar gitu aja dideket gue. Gue akan ketakutan dan mimpi buruk berhari-hari. Sekarang? Seandainya ada potongan kaki nyaris hancur yang kelempar dideket gue, yang gue lihat adalah, otot gastrocnemius, tendo achilles, vena saphena magna, tulang tibia yang kulitnya terkoyak, otot-otot flexor dan ekstensor femur yang menyembul diantara darah. Ada sisi dari gue yang gak lagi melihat bahwa itu dulunya manusia. Sisi itu mulai terbiasa melihat bagian-bagian manusia sebagai objek. Dan gue ngeri setengah mati karena gue sadar sekarang gue punya sisi ini, gue ngeri karena sekarang gue bisa mengerti kenapa ilmuwan begitu banyak yang mengorbankan manusia, sesamanya, demi penelitian. Demi keingintahuan. Keingintahuan manusia yang begitu tidak ada habisnya. Dan gue ngeri karena tahu bahwa suatu hari, mungkin aja gue bisa sekhilaf mereka. Na'udzubillahi min dzalik.
Gue sadar sepenuhnya dan seutuhnya bahwa gue gak akan pernah boleh kehilangan sisi manusiawi gue. Sisi yang melihat orang-orang sebagai individu, bukan objek. Sisi yang menyayangi setiap individu selayaknya manusia. Sisi yang selalu berdoa bagi setiap jiwa yang kembali agar beristirahat dengan tenang.
Setiap awal dan akhir praktikum anatomi yang melibatkan cadaver, dosen-dosen kami selalu mengingatkan agar kami berdoa, mendoakan agar jiwa beliau yang merelakan tubuhnya untuk kita pelajari agar tenang di atas sana. Dosen-dosen kami juga mengingatkan agar jangan pernah main-main dengan cadaver, hargai cadaver selayaknya kita menghargai manusia yang masih hidup. Gue membiasakan diri untuk mendoakan mereka dalam hati sepanjang praktikum, terutama kalo gue liat ada cadaver yang matanya masih membuka. Gue berdoa supaya mereka tenang dan berada di tempat terbaik diatas sana.
Mortui Vivos Docent.
terharu baca ini :')
ReplyDeleteaku juga pas pertama liat om cadaver "ada perasaan yg berbeda"