Friday, May 27, 2011

Awan Putih Pergi

Hujan mengisak lagi di jendelaku
Mengetuk-ngetuk dengan jemarinya yang rapuh
Merintih sedih padaku
Ia takut, kataku
Ya, takut, rintihnya
Awan-awan putihku baru saja pergi, gadis muda
Lalu aku ditinggalkan dengan awan hitam yang menyeringai
Aku turun ke bumi, berharap ada yang menolongku
Maukah kau, gadis muda, maukah?
Aku tak bisa, hujan
Karena, seperti kau, aku juga takut
Takut pada awan hitamkah?
Bukan, padamu
Karena kau dingin dan sedih
Maaf, maaf sekali, kataku
Lalu hujan meraung dan menangis lebih keras
Melolong dan menendang-nendang jendelaku, perih karena penolakanku
Aku menangis untuknya, untuk perihnya
Yang dia tak tahu hanya satu
Awan putih tak akan kembali selama dia masih disini
Ia, adalah alasan awan putihnya pergi
Aku menangis lagi untuknya, tapi juga untuk pedihku

No comments:

Post a Comment