Di satu titik diantara banyak titik di bola dunia ini, hiduplah seorang ank bernama Lorxis. Lorxis punya kehidupan normal. Teman-teman, keluarga, adik, sepupu, sahabat, dan kertas. Lorxis mencintai kertas lebih dari apapun. Baginya, kertasnya adalah dunia rahasianya. Ia tuliskan pemikiran, keinginan rahasia, kesedihan, kegembiraannya, rasa malunya di kertas. Hanya satu yang belum bisa dia cintai. Dia Fisika. Ia menuliskan Fisikanya di kertas selalu dengan perasaan bersalah karena telah menorehkan tulisan-tulisan menyakitkan diatas kertasnya.
Tapi Lorxis suka mencintai. Lorxis percaya cintanya bisa merubah semua yang buruk menjadi baik. Dan semua hal yang Lorxis cintai biasanya akan membalas cinta Lorxis.
Sayang, sepertinya Fisika tidak bisa mencintai Lorxis. Skala cinta Fisika untuk Lorxis dari skala 1-100 hanya 40. Hanya sampai disitu batas cinta Fisika untuk Lorxis.
Pada kertasnya, Lorxis menuliskan janjinya. Janji untuk membuat Fisika menoleh dan melihat cintanya. Kertas tersenyum dan berjanji akan membantunya.
Lalu hari itu datang. Hari yang membuat Lorxis tak akan pernah sama lagi. Tapi Lorxis tahu hari itu pasti datang. Mama Lorxis sudah lama khawatir. Kulit Lorxis sering membiru. Biru di kulitnya membentuk bercak. Maka hari itu, pria berjas putih bilang pada Mama Lorxis. Lorxis kena leukemia. Lorxis tidak mengerti penjelasan pria itu tentang leukemia. Lorxis hanya mengerti waktunya tinggal sedikit untuk membuat Fisika melihat cintanya.
Mulai hari itu, Lorxis memutuskan akan menulis beberapa kata setiap hari di kertasnya. Kata-kata yang mendeskripsikan hari itu baginya. Dan Lorxis memutuskan, untuk membuat Fisika menoleh, ia akan menulis semua hal tentangnya di kertasnya yang lain. Ia akan mencari. Mencari dan mengorek setiap hal tentang Fisika. Hingga Ia tahu apa yang membuat Fisika tidak mau menoleh padanya.
Hari ini, Lorxis menulis,”Tuhan, boleh aku minta hadiah? Kalau boleh, tolong naikkan skala cinta Fisika padaku. Buat dia lihat aku. Sekaliiii.. saja. Boleh tidak, Tuhan?”
Hari-hari Lorxis semakin sedikit. Tapi dia terus menulis. Hari lain, dia menulis lagi.
”Hari ini aku mengerti satu hal lagi tentangnya, Tuhan. Aku tidak akan memberitahuMu. Aku masih mau menyimpannya sendiri. Tapi jangan ngiri ya, nanti kapan-kapan kuberitahu kok. Janji.”
Lorxis terus menulis semua hal tentang Fisika. Kertas masih tersenyum dan masih menemaninya dengan setia. Lalu Lorxis menulis lagi,”Satu hal yang paling kusyukuri, Tuhan, Kau mempertemukan aku dengan kertas. Dengannya, aku adalah aku. Seutuhnya, selengkapnya aku.”
Tahukah kau? Tak mudah membuat Fisika melihat cintanya. Ia begitu dingin. Lorxis tahu itu. Skala cinta Fisika untuk membuatnya menoleh adalah 75. Skala cinta tertingginya hanya 40. Melirik pun Fisika tidak.
Ternyata kerja keras Lorxis membuahkan hasil. Hari itu, Mr. Randall membawa surat cinta dari Fisika. Untuknya. Untuk Lorxis. Diantara kata-kata indah itu tertulis angka 76. Skala cinta yang Fisika butuhkan untuk melihat cintanya.
Ia berhasil! Fisika melihat cintanya! Bahkan Ia sedikit tersenyum. Lorxis memejamkan mata, menikmati perasaan menggemuruh dalam hatinya. Lorxis buka mata. Lalu ia melompat dan memeluk Mr. Randall. Hatinya seperti mau meledak.
Ia senang. Bahagia. Berhasil. Dengan waktunya yang tinggal sedikit, ia dapat membuat Fisika menoleh. Melihat cintanya.
Tiga hari kemudian, Lorxis pergi. Pergi dengan bahagia, tersenyum. Pergi untuk selamanya. Namun ia bahagia. Kau dengar? Ia bahagia. Sangat.
Di hari terakhirnya Lorxis menulis,”Aku tahu Tuhan membaca permintaanku. Ia benar-benar memberikan hadiahnya. Tapi aku dan kertas pura-pura tidak tahu. Tulisan terakhirku untuk Tuhan, aku mau bilang terimakasih. Tuhan sudah izinkan aku dapat skala cinta 76 dari Fisika. Dan dia menoleh padaku. Dia melihat cintaku. Bahkan dia tersenyum, Tuhan. Kau takkan pernah tahu seindah apa senyumnya hingga Kau lihat dia tersenyum. Waktuku sebentar lagi habis. Untuknya, dan untuk kertas yang selalu ada menemaniku, aku akan pergi sambil senyum. Supaya Fisika dan kertas tidak sedih. Aku senang punya kalian. Dan aku senang Tuhan mau memberiku hadiahku.“
Permintaan terakhir Lorxis dikabulkan Tuhan. Untuk sekali dalam hidupnya. 76. Dari Fisika untuk Lorxis. Dengan banyak sekali cinta.
No comments:
Post a Comment